2.2.12

Air Mata Luna :'( -______-v / Tugas TIK


Hi!
Ceritanya kan kelasku disuruh bikin film buat pelajaran TIK nih, terus yang bikin script aku. Tapi jangan tertipu label, emang script nya yang bikin aku, tapi idenya punya anak-anak. Nah, yang pada punya ide pengen liat hasilnya. Maka dari itu, numpang post di blog yaa :D

BABAK 1 (kelas)
Guru                      : “Jadi, perang dunia 2 di pasifik diawali oleh Jepang mengebom pangkalan...”
Luna                      : (bangkit dari kursinya dan mendekati guru) “Bu, permisi, saya mau ke belakang. Boleh?”
Guru                      : (menatap dengan tidak suka) “Kamu tahu kan, kalau saya menerangkan, tidak boleh ada yang ijin keluar?”
Anak-anak          : “Huuuu liat tuh si sok pinter! Mentang-mentang udah bisa jadi nggak sopan sama guru!”
Luna                      : “Tapi, Bu....”
Guru                      : “Sudah diam, anak-anak! Ya sudah, kamu cepat keluar. Lain kali tidak saya maafkan. Ayo, kita lanjutkan, anak-anak!”
Luna                      : (berkata dengan lirih dan kepala menunduk) “Terima kasih, Bu.” (berlari keluar kelas)

BABAK 2 (jalan menuju kamar mandi dari kelas)
Luna berlari ke kamar mandi. Setibanya di kamar mandi, ia memuntahkan darah di wastafel. Setelah membersihkan bekas muntahannya, ia bergegas kembali ke kelas.

BABAK 3 (kelas)
Guru                      : “Jadi, sekarang saya tugaskan untuk membuat makalah tentang perang dunia lalu dipresentasikan. Berkelompok, setiap kelompok 2 orang. Karena ganjil, yang sisa gabung ke kelompok lain.”
Ajes                       : “Halah, Buuu. Perang dunia susah lhoo ah gak bolo Bu Aya!”
Guru                      : “Tidak ada tapi-tapian. Pokoknya minggu depan presentasi. Besok konsultasi. Sekian.”      (berjalan keluar kelas)
(Sepeninggal guru, kelas ramai. Semua saling berbicara tumpang tindih)
Ajes                       : “Kadus! Sini semua! Kita bagi kelompoknya!”
Auza                      : “BeGeBee! Siniiiii ayo bagi kelompok!”
Saila                       : “Udah sana Mansur bagi kelompok sendiri-sendiri. Aku sama Rara pokoknya.”
(semua telah mendapat pasangan)
Galih                      : “Lho he, Luna kelompokan sama siapa?” (berbicara pada Candra)
Candra                  : “Ah bodo amat. Dia kan pintar, paling juga bisa selesai sendiri.”
Galih                      : “Ya tapi...” (perkataanya tidak dilanjutkan)
(bel pulang sekolah berbunyi dan anak-anak pulang)

BABAK 4 (rumah Luna)
(Luna tiba di rumah, disambut oleh ibunya)
Luna                      : “Assalamualaikum.”
Ibu                         : “Waalaikumsalam. Sudah makan ta, Nak?”
Luna                      : “Belum, Bu. Luna ganti baju dulu.”
Ibu                         : “Oh ya sudah. Cepat ya, Nak. Sudah jam 1.”
(Luna bergegas ke kamarnya. Lalu dia berbaring di tempat tidur dengan wajah pucat dan memegangi kepalanya sambil mengerang kesakitan. Lalu iapun tertidur.)

BABAK 5 (kamar Luna)
Ibu                         : “Luna.. Bangun, Nak. Kamu belum makan siang. Sudah jam 3.”
Luna                      : (bangun sambil terkaget) “Jam 3? Iya, Bu, Luna makan.” (bergegas keluar kamar)
Ibu                         : “Oiya, memang ada teman sekolahmu yang rumahnya dekat sini?”
Luna                      : (mengerutkan kening) “Kayanya enggak, Bu. Kenapa?”
Ibu                         : “Itu, tadi ada anak pake atribut sekolahmu mondar-mandir depan rumah. Pas Ibu tanya, dia bilang mau cari rumah temannya. Ibu kira ada anak sekolahmu yang tinggal disini.”
Luna                      : “Siapa namanya?”
Ibu                         : “Gak tau. Cowok tinggi, kulitnya sawo matang kuning gitu, matanya rada sipit.”
Luna                      : “Hah? Siapa? Masa Ajes? Habel? Ah tauklah. Luna mau sholat dulu. Tugas Luna banyak.”


BABAK 6 (di kelas)
(Di sekolah saat jam istirahat)
Luna                      : “Ajes, kemarin kamu lewat depan rumahku?”
Ajes                       : “Hah? Apa? Ngapain coba aku lewat depan rumahmu? Najis tau gak sih!”
Luna                      : “Maksudku bukan gitu...”
Ajes                       : (memotong ucapan Luna) “Hus hus, pergi sana! PR ku belum, bisa liat gak sih?!”
(bel selesai istirahat berbunyi)
Guru                      : (masuk ke dalam kelas) “Bagaimana makalahnya anak-anak? Ada yang perlu dikonsultasikan?”
Luna                      : (maju ke depan kelas membawa lembaran kertas tugas)
Ajes                       : “Lihat tuh! Udah nuduh nuduh aku dateng ke rumahnya, ngganggu aku ngerjain tugas, sekarang sok-sok an ngumpulin tugas pertama lagi!” (berbisik ke seluruh kelas)
Guru                      : “Ada lagi selain Luna yang perlu konsultasi?”
Anak-anak          : (saling lirik dan menggeleng lemah)
Guru                      : “Kalian itu ya, kerjaannya maiiiiin terus. Tawuraaaaaan terus. Jangan tanya saya tau dari mana!” (tambahnya saat melihat Auza membuka mulut) “kalian itu nggak malu sama Luna? Dia itu pulang selalu awal, datang paling pagi. Tugas juga selalu ngumpulin pertama. Dasar nggak tau malu! Sudah, kalian kerjakan dulu sebisanya. Pokoknya harus konsultasi hari ini!” (keluar kelas dengan marah)
Saila                       : “He Lun, Culun, sini kamu!”
Luna                      : (mendekati Saila dengan wajah takut) “I..Iya..”
(Semua anak menggerombol dengan gengnya dan mendekati Saila)
Piti                          : “Lho ada apa? Kok pada marah-marah?”
Saila                       : “Ini nih, gara-gara dia, semuanya kacau! Semua kena marah!”
Auza                      : “Iya tuh! Dasar ngesok! Njilat, cari muka!”
Rizqi                       : “Mboh! Mentolo tak guwak ae arek iki!” (mengacungkan tinju ke Luna)
Vandra                 : “He iki lapo kon melok-melok? Sing dirugino arek gengku lapo kon melok ngurusi hah? Wes ngaliho kono gak usah ngrusuhi!”
Rara                       : “Saila lho gak ngurusi Ajes, sok tau wek! Luna itu emang nyebelin, gak cuma buat gengmu aja!”
Galih                      : “He reek, daripada ngadili si Luna, mending kerjain PR nya Bu Aya aja. Nanti orangnya masuk terus kita kena marah lagi.”
Dandy                   : “Iya bener Galih. Wes ayo ngerjain aja.”
(semua anak BeGeBe kembali ke tempat masing-masing dan mengerjakan)
Saila                       : “Oh ancene Galih”
Auza                      : “Lapo kon heh? Ngejek ngejek anggota kelompokku segala. Kalo gak mau ngerjain yowes! Biasa ae kon, gak isok biasa a?!”
Rara                       : “Udah, Sai, ayo kita kerjain aja.” (kembali ke bangku dan mengerjakan PR)
(semua anak kembali ke tempat masing-masing dan mengerjakan)
Guru                      : (masuk dan melihat semua anak mengerjakan tugas) “Lha gini lho, tertib! Ayo, ada yang mau konsultasi?”
Galih                      : (maju sama Candra) “Ini, Bu. Tolong diperiksa.” (menyerahkan tugas)
Ajes                       : (maju sama Vandra) “Bu, saya juga.” (nunjukkin tugas)
Guru                      : “Luna, coba sini. Bantu Ibu mengoreksi tugas teman-temanmu.”
Luna                      : (maju ke meja guru) “Iya, Bu.” (mengambil tugas milik Ajes-Vandra)
(Luna-guru ngoreksi tugas. Kelas hening. Ajes-Vandra Galih-Candra tetap berdiri di depan)
Luna                      : “Ini, Bu. Ajes salah tulis mungkin. Saat D-day, Montgomery pemimpin Inggris. Bukan Amerika. Ini juga. Hitler mati bunuh diri, bukan dibunuh Joseph Stalin. Dan ini.. Ini..” (menunjukkan sederet kesalahan Ajes)
Guru                      : “Kamu niat mengerjakan tugas tidak?” (menatap Ajes-Vandra tajam)
Saila                       : “Rasain tuh, salahnya ngejek aku!” (tertawa penuh kemenangan)
Guru                      : “Saila juga! Tugasmu belum selesai gitu. Tidak usah rame! Sana cepat kerjakan! Kelas ini ya, bener-bener gak bisa diatur. Yang bener cuma Luna, itu juga nggak didenger! Nggak bener semua! Sudah, saya tidak mau tahu. Tidak ada konsultasi, bila ada fakta yang salah diungkapkan, langsung remidi. Siapkan baik-baik!” (keluar kelas dengan murka)
Tasya                     : “Heh Lun, udah berapa kali kamu bikin gara-gara sama anggota gengku? Sini kalo berani, hadepin semuanya! Dia (nunjuk Ajes-Vandra) itu temenku! Jangan diganggu ya!” (Kadus bersiap maju menghadapi Luna)
Rara                       : “Heh jangan salah! Saila juga dimarahin gara-gara si Culuna ini! Mansur juga nggak akan diem tok!” (Mansur ikut maju menghadapi Luna) “Dan, jangan lupa, ini si Galih juga ikut bikin ribut! Pake sok alim segala!”
Dandy                   : “Heh, kalo nggak ada Galih, mungkin Bu Aya nggak cuma gitu marahnya. Bisa-bisa BK!”
Rian                       : “Nggak usah cari gara-gara sama kami ya! Ayo, kami tidak takut!”
(BeGeBe maju menghadapi Mansur)
Luna                      : “Eh sudah sudah, iya deh, ini semua salahku…”
Nada                     : “Heh liat nih! Pake sok suci lagi!”
Habel                    : “Udah, ayo kita hajar bareng-bareng!”
(sekelas -kecuali Galih- caci maki Luna. Luna nangis *klimaks)

BABAK 7 (jalan menuju rumah Luna dari sekolah)
Luna perjalanan pulang sambil nangis. Diam-diam Galih mengikuti.

BABAK 8 (di rumah Luna)
Luna                      : “Assalamualaikum.” (langsung roboh)
Ibu                         : “Lho nak? Lho koook?” (jerit kenceng)
Galih                      : (pura-pura lewat di depan rumah Luna) “Lho, ada apa? Ayo, te, dibawa ke puskesmas.” (ikut bawa Luna ke puskesmas)

BABAK 9 (di sebuah ruangan dokter puskesmas)
Dokter                  : “Anak ibu sudah siuman. Dan, tampaknya anak Ibu menderita sirosis hati.”
Ibu                         : “Lalu?”
Dokter                  : “Penyakit ini tidak bisa disembuhkan disini. Harus dibawa ke rumah sakit. Alat kami belum memadai untuk itu. Lagi pula, tampaknya Luna sudah lama mengidap penyakit ini.”
Ibu                         : (berkata lirih) “Rumah sakit? Saya berunding dengan keluarga dulu ya, Dok.”
Dokter                  : “Silahkan. Tetapi, kalau tidak segera ditangani, umurnya mungkin hitungan hari.”
Luna                      : (masuk ke ruang dokter bersama perawat) “Lho? Luna nggak diperiksa lagi?”
Ibu                         : “Nggak. Luna baik-baik kok. Ayo.”
(ternyata mereka pulang ke rumah dan tidak kembali)
BABAK 10 (di teras rumah Luna)
Galih                      : “Lho, te, Luna gimana?”
Ibu                         : “Tante berterima kasih sekali sama kamu. Tapi kalau boleh, Galih pulang aja ya. Biar Luna istirahat.”
Galih                      : “Lho tapi… Luna sakit apa?”
Ibu                         : (menatap Galih dalam dan menghela nafas) “Sirosis hati.”
Luna                      : “Oh. Jadi Luna sakit sirosis hati terus karena nggak ada biaya, Luna nggak bisa dirawat di rumah sakit dan dibawa pulang ya? Nggak apa-apa kok, Bu, jujur aja. Luna paham.” (muncul dari balik pintu dengan senyuman terpaksa) “Tapi Galih jangan kasih tau teman-teman ya.”
Galih dan Ibu     : (saling menatap dengan kaget)

BABAK 11 (di kelas)
Guru                      : (mengabsen) “Ada yang tau Luna?”
Saila                       : “Nggak tau, Bu. Kesasar kali tuh.”
Guru                      : “Kalau begitu, berhubung besok akan ada cerdas cermat antar kelas, kalian harus memilih wakil kalian. Maunya Ibu ikutkan dia, tapi bagaimana lagi? Dia tidak masuk hari ini.”
Sekelas                 : (terkesiap kaget)
Guru                      : “Ibu pilihkan 3 orang saja ya? Um, Ajes.” (nunjuk Ajes) “Auza.” (nunjuk Auza) “Saila.” (nunjuk Saila)
Auza Ajes Saila  : (menunduk) “Baik, bu.”

BABAK 12 (di rumah Luna)
Ibu                         : “Luna, ayo makan, Nak.”
Luna                      : “Nggak, Bu.”
Ibu                         : “Lho kok gitu, Nak? Kan kamu sakit, harus makan banyak.” (mendekati Luna)
Luna                      : “Ah, sebentar lagi Luna nyusul eyang kok, Bu. Ngapain juga dirawat?”
Ibu                         : “Hush nggak boleh ngomong gitu!”
Luna                      : “Luna cuma nunggu satu hal kok, Bu. Luna pengen baikan sama temen-temen.”
BABAK 13 (keesokan hari di kelas)
Saila                       : “Haduh cerdas cermatnya susah banget.”
Auza                      : “Iya. Ngapain sih si Culuna itu kagak masuk. Bikin kelas kita paling bawah aja.”
Ajes                       : “Iya itu, bener!”
Galih                      : “Kalian itu kok nggak tau diri ya? Kalian kira kenapa si Luna nggak masuk?”
Nada                     : (mengangkat bahu) “Nggak punya duit kali buat bayar sekolah.”
Galih                      : (menatap tajam) “Dia kena sirosis hati. Terserah mau percaya nggak.” (Mengemasi barang lalu pulang)
(kelas hening)
Saila                       : “Eh iya nggak sih?”
Auza                      : “Udah. Ayo kita susul Galih. Minta anter ke rumahnya Luna sekarang!”

BABAK 14 (jalan sekolah)
Auza                      : “Galih! Galih! Tungguuuu! Kami mau ikut jenguk Luna!”
Galih                      : (membalikkan badan dan tersenyum tipis)

BABAK 15 (rumah Luna)
Luna                      : “Ibu, Luna nggak kuat… Badan Luna sakit semua.” (memuntahkan darah)
Ibu                         : “Ayo, Nak, ke puskesmas saja.” (berusaha membopong Luna)
Luna                      : (menepis tangan ibunya) “Nggak usah, Bu. Nanti rumah kosong, kalo Galih atau siapa dateng gimana dong.” (pingsan)
Saila                       : “Luna! Lunaaa! Permisiiii!”
Ibu                         : “Iyaa, saya bukakan.” (bukain pintu)
(anak-anak menghambur masuk celingukan cari Luna. Auza menemukan pertama kali)
Auza                      : “Luna, maafin kami ya.. Kami janji nggak akan gitu lagi. Ayo, bangun Luna!”  (menggoyang-goyangkan tubuh Luna)
Luna                      : (nangis dalam pingsannya)
Semua                  : “Lunaaaaaaaa!” (jerit jerit)
THE END -____-v

0 Comments:

Posting Komentar